Menarik, Paroki St. Yosep Pelindung Pekerja Manado mengadakan Pelatihan Jurnalistik & Pengelolaan Konten Media Sosial di Gedung Pusat Pastoral Paroki St. Yosep Pelindung Pekerja Manado, pada hari Sabtu (19/11/22). Kegiatan ini dibuat sebagai sarana pewartaan yang ampuh di era digital sekarang ini. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dari Kelompok Kategorial dengan jumlah 35 orang yang kebanyakan diikuti oleh anak muda dan para remaja. Adapun tujuan lain dari kegiatan ini adalah untuk menyiapkan jurnalis-jurnalis gereja yang dapat memberi sumbangan berita kepada Komsos Keuskupan. Tidak itu saja, pelatihan ini juga berguna bagi kami kaum muda Katolik untuk turut terpanggil menjadi pewarta iman katolik lewat media sosial. Hal ini dikuatkan oleh sambutan Pastor Paroki St. Yosep Pelindung Pekerja Manado, Pastor Stenly Mokodompit, Pr dan pastor rekan Pastor Made Pantyasa, Pr.
Kegiatan ini dikemas menarik, selain diberikan materi dari para pakar yang melanglang buana dalam dunia Jurnalistik juga diselingi dengan Ice Breaking. Dan tidak kalah menarik, dalam kegiatan ini kami langsung menjadi Jurnalistik pemula lewat karya tulis kami yang langsung dimuat dalam website Komsos Keuskupan Manado. Sebelum kami menulis berita, kami juga dibekali dengan materi “PERS” dan “JURNALISTIK”. Bagaimana dunia Pers dan Jurnalistik serta wilayah medsos, yang disampaikan oleh pemateri berpengalaman, Bapak Yosep E. Ikanubun. Bapak Yosep juga menyampaikan bahwa menjadi Jurnalistik harus mengedepankan kebenaran dan selalu membela kaum miskin dan terpinggirkan. Adapun nilai berita harus memenuhi kriteria sebagai berikut : 1. Memiliki nilai penting, 2. Aktual, 3. Populer, 4. Konflik, 5. Keanehan, 6. Dramatis, 7. Jarak, 8. Nasib Manusia. Lebih jauh lagi dijelaskan bahwa ada 6 unsur penting dalam sebuah berita, yaitu what, who, where, when, why, dan how. Kemudian materi yang tidak kalah penting disampaikan oleh Bapak Romansa Taasihe yang kesehariannya bertugas sebagai Komsos Keuskupan Manado. Beliau menyampaikan bagaimana membangun jejaring media sosial.
Menjadi pertanyaan bagi kita kaum muda, apakah kita mampu menjadi jurnalistik yang ampuh di era digital, dimana kita tetap mengedepankan kebenaran serta selalu ingat bahwa kita mempunyai panggilan menjadi garam dan terang dunia dimanapun kita berada, termasuk saat kita berada dalam dunia sosial?.



